Selasa, 30 Oktober 2012

Cerpen : Cewek Planet Itu - Part II (Finish)

Posted by Nurul Ilmah

Nina berbalik memandangku dalam, “ubah?? Kamu yakin dia bakal kembali padaku?”
Aku tersenyum kecil, “jangankan ‘dia’ , seluruh cowok satu sekolahan juga bakal tak mampu berhenti menatapmu!! Aku janji!!!”
Nina membalas senyumanku. Tanda dia setuju. Asik!!!!!
* * *
“kenapa hape-nya gak nyambung kemarin??” tanya Bian penuh selidik padaku yang tengah sibuk membaca majalah di kelas yang hanya ada kami berdua.
“Lowbat,” jawabku tanpa beralih dari lembaran-lembaran majalah
“lowbat? Bukannya kemarin baterainya masih full??” Bian makin curiga
“abis maen game,” kataku masih cuek
“game?? Kapan kamu suka maen game?? Aku kira kamu gak suka maen game, apa kamu...” ucapan Bian terpotong olehku
“Curigaan!! kamu kira Aku sengaja gak aktifin hape, kemarin tuh hapenya beneran lowbat abis maen game bareng nin...” aku tak melanjutkan ucapanku karena Bian menatapku dalam, membuat seluruh syaraf-syarafku berhenti bekerja.
“Nina?? Oh..jadi kamu serius dengan rencana kamu itu??”
“bian..aku..”
“hanya ingin membantunya?? Erin, mesti berapa kali sih aku bilang, kamu itu harus jauhin dia!! Kamu gak maukan kehilangan aku??” Bian mencengkran kedua bahuku erat, tidak seperti biasanya.
“kenapa?? Apa setelah aku mengubah Nina, kamu juga bakal suka dia?? Apa iya??”
Bian melepaskan cengkramannya, lalu menuju ke jendela. Menatap lurus kearah lapangan sambil menghela nafas panjang. “Bukan,,,aku..”
“lalu kenapa?? Kamu tidak akan beralih ke dia kan???”
“erin,,ada sesuatu yang gak kamu tau, antara aku dan Dia,”
Aku kaget luar dalem mendengarnya. Bian dan Nina...ada apa??, “Maksud kamu??”
Bian berbalik menatapku, “suatu saat nanti kamu akan tau,rin”
* * *

Seminggu berlalu, waktu yang cukup buat mengubah penampilan Nina. Semuanya sudah kurencanakan dengan matang, tepat hari ini, hari senin, Nina akan kesekolah dengan penampilan yang baru, penampilan yang akan membuat semua orang tak percaya bahwa itu adalah Nina.
“sudah siap, Nin?” tanyaku pada Nina yang tengah berkaca didalam kamarnya
“iya rin, apa aku terlihat aneh?” tanya Nina berbalik menatapku
Aku tersenyum kecil sambil menatap Nina dari bawah keatas, kawat gigi dan kacamata semuanya sudah kusingkirkan, rambut sebahu nina yang ternyata sangat terawat kubiarkan tergerai dengan dihiasi sebuah jepitan pita yang manis, kupoleskan dandanan minimalis membuat wajahnya tidak lagi terlihat pucat, Nina benar-benar cantik, bahkan Aku sempat iri melihatnya.
“Bener,rin? Aku aneh?” tanya Nina lagi
“Tidak Nin, kamu bahkan sangat cantik, dengan ini anak-anak bakal menghilangkan gelar cewek planetmu itu,hehe,” kataku lalu mengajak Nina bergegas dan segera berangkat kesekolah.
Dan benar saja, baru saja Kami melangkahkan kaki di gerbang sekolah, semua mata tertuju pada Nina, orang-orang yang melihat nina seakan tidakmengenali Nina, bahkan ada yang terus menganga, membuatku dan Nina tertawa kecil.
“Liha tuh si Adi, Mengap terus” bisikku pada Nina lalu kami tertawa kecil
Begitupun ketika kami sampai dikelas, Vina CS yang biasanya mengolok-ngolok Nina langsung saja memuji Nina tiada henti.
“Sumpah Nin, Kamu cantik banget, kamu mau jadi bagian dari kami?” Vina Antusias didukung oleh Reni dan Nita
“emm, ini semua karena Erin,”kata nina Menatapku penuh terima kasih
Aku hanya tersenyum kecil, “itu bukan apa-apa, kamu pantas kok Nin,”
“pulang sekolah kita ke mall yuk,”ajak Reni dianggukin Nita dan Vina
Nina mengangguk beriringan dengan Bel masuk berbunyi dengan nyaringnya.

* * *
Aku tengah sibuk mencari Bian di lapangan sekolah, sejak pagi kami belum berbicara, dan ini membuatku aneh terhadapnya. Yah aku akui ini memang salahku karena tidak mendengarkan kata Bian, aku terlalu keras. Mungkin Bian marah, tapi mengapa dia mesti marah, padahal aku hanya melakukan sedikit kebaikan. Pertanyaan yang tidak bisa kujawab sendiri.
“kamu liat Bian nggak?” tanyaku pada Anton salah satu anggota Ekskul Basket
“emm, tadi sih dia ke arah gudang sama Nina” jawab Anton menunjuk ke arah gudang
Aku kaget, “Gudang? Oh iya makasih yah” kataku lalu segera berlalu dari Anton
Hatiku langsung menjadi aneh, seperti terikat oleh sesuatu dan membuatnya sedikit sesak. Ada kecurigaan menyusup masuk kesana, membuat syaraf-syarafku berpikir keras. Ada apa Bian ke gudang? Dengan Nina? Ada apa dengan mereka? Kenapa?kenapa? apa Bian dan Nina.
Jantungku serasa berdetak, mataku seakan telah mendidih dan siap mengeluarkan butir bening. Disana didalam gudang, Bian dan Nina berpelukan. Entah ada apa, tubuhku seakan beku ditempat.
Bian melepaskan pelukan Nina, “Maaf” kata Bian pelan
“Kenapa? Aku sudah kembali yan, aku sudah datang, aku kembali,” Kata Nina menatap Bian yang menunduk dalam
“aku tidak bisa, kamu hanya bagian masa laluku,”
“masa lalu?? Aku ada sekarang bian!! Aku ada sekarang dihadapnmu!!” Nina berteriak sambil memegang kerah baju Bian
“Aku ada sekarang Bian!! Pencarianku selama dua bulan tidak sia-sia, aku menemukanmu!!! Aku yang seperti orang bodoh selama dua bulan karenamu, dan saat bertemu denganmu lagi, kamu seperti tidak mengenaliku!!kenapa yan!!! Kenapa!!! Kenapa kamu lebih memilih cewek itu!! Cewek yang tidak ada harganya itu!!!!”
Butir bening itu telah membasahi pipiku, kubekap mulutku. Isakan tangisku kutahan sendiri, sakit rasanya. Aku sudah ingin berlalri dari tempat itu tapi kakiku masih membeku.
“DIAM!!!!!” bian melepaskan cengkraman Nina
“kamu tidak berhak ngatai Erin gitu!! Kamu lebih berharga daripada dia!! Dia yang telah mengembalikanku dari keterpurukanku setelah kamu nyakitin aku! Dia yang membuat duniaku kembali berwarna, dia, hanya dia, bukan kamu!” Bian menatap tajam Nina
Tanpa terkontrol, Nina tiba-tiba saja maju, mencium bibir Bian, dan Bian diam saja. Aku yang telah meledakkan tangisku tak bisa menahannya lagi. Aku berlari, berlari dari tempat itu, dari sebuah skenario yang entah mengapa telah kusaksikan. Sakit itu telah menjalar keseluruh tubuhku, membuatku jatuh dan semuanya menjadi gelap. Aku tak sadarkan diri.

* * *
Aku membuka perlahan mataku, dan kudapati sebuah ruangan yang berselimut cat putih. Bau obat-obatan yang menyengat membuatku sadar bahwa aku berada di rumah sakit.
Aku bangun, kupegangi kepalaku yang masih terasa pusing, baru kusadari ternyata Bian berada disampingku, dia tertidur sambil menggenggam tanganku erat sampai aku tak bisa melepasnya.
Aku menatap Bian dalam, air mataku kembali jatuh perlahan. Semua kejadian yang kuliaht dengannya bersama Nina membuat hatiku menjadi sesak.
Bian menggeliat, dia terbangun dan langsung saja membawaku dalam pelukannya, “rin, kamu sudah sadar, aku khawatir banget, kamu sudah dua hari tidak sadarkan diri, kata dokter kamu tidak mengalami apapun, kamu mengalami stress berat rin,aku takut rin, aku takut kehilangan kamu,” Bian mendekapku dalam membuatku tambah sesak
Aku hanya bisa terisak tak mampu berkata apa-apa padanya, entah aku harus marah padanya karena Nina, atau harus bahagia karena dia lebih memilih aku.
Bian melepaskan pelukannya, “Rin, jangan nangis, aku sayang kamu, aku tidak ada apa-apa dengan Nina, percaya aku rin,”
“Nina..” kataku perlahan
Bian menatapku dalam, aku balas menatapnya walau air mataku terus berlinang.
“ada apa kamu dengan Nina? Ada rahasia apa antara kalian? Kenapa kamu menyembunyikannya dariku? Kenapa?”tangisanku semakin meledak
Bian kembali mendekapku, “Maafkan aku rin, maafkan aku, aku tidak bermaksud buat nyembunyiinnya dari kamu, tidak rin, hanya saja aku takut mengenang masa laluku itu, aku takut rin”
Aku melepaskan pelukan Bian, “Maksud kamu apa?”
Bian menghela nafas, ‘rin, sebelum aku pindah kesekolah sekarang dan bertemu kamu,5 bulan lalu, aku dan Nina pacaran, mulanya kami bahagia tapi setelah Mamanya meninggal, Dia berubah, berubah seratus persen, dia mabuk-mabukan, sampai make rin,”
Aku mendekap mulutku tidak percaya dengan apa yang dikatakan Bian barusan, “Kamu bohong,yan! Nina tidak seperti itu!”
“kamu tidak mengenal dia rin,tapi ini adalah kenyataan, aku pindah sekloah juga karena untuk menghindarinya, aku tersiksa dengannya aku hampir saja dibunuh  ketika aku putuskan dia, dia gila rin, dia sempat dirawat dirumah sakit jiwa selama sebulan, dan hal itulah yang membuatnya menjadi berpenampilan aneh,” lanjut Bian
“dan sejak kamu ngubah dia, sejak aku melihat dia kembali seperti dulu, aku hampir saja kembali dengannya, tapi aku sadar, semuanya udah berubah, semuanya sudah tidak bisa lagi kembali seperti dulu lagi antara aku dan Nina, dia nyium aku dan aku menampar dia, dia tidak sepantasnya ngelakuin itu, tapi dia maksa rin, dia maksa aku balikan dengan dia, aku nggak mau rin,yang aku sayangin sekarang itu hanya kamu,” bian menatapku tajam, dapat kurasakan kasih sayangnya itu. Aku menyesal, sangat menyesal dengan apa yang telah kulakukan.
Aku tidak menyangka, Nina yang awalnya kukenal begitu lemah, ternyata sebrutal itu, dan akhirnya aku tau mengapa Bian melarangku mendekati Nina, dia takut, aku menjadi korban Nina. Sedetik itu juga rasa penyesalan menghampiriku, “Yan,,maafin aku, aku salah,” aku tertunduk, Bian kembali memelukku.
“itulah sebabnya rin, aku nggak mau kamu dekat-dekat dia, dan ketika kau tau rencana gilamu itu untuk mengubah Nina, aku tak tau harus ngapain, karena aku tau kamu itu orangnya keras kepala,” Bian melepasku dan mengacak-ngacak rambutku.
“iya,maafin aku yan, aku gak tau harus ngapain sekarang, semuanya sudah terlanjur terjadi,”kataku menyesal.
“kita lihat saja rin, tapi aku mau kamu janji nggak ngulang ini lagi dan tidak deket-deket dengan Nina lagi,” Bian tersenyum manis padaku, dan aku membalasnya dengan anggukan .
* * *
Seminggu berlalu setelah aku keluar dari rumah sakit. Dan aku mulai menjauh dengan Nina, sesuai janjiku pada Bian. Kini Nina malah jadi sangat akrab dengan Vina CS, hal yang sangat kontras sebelum Nina berubah. Nina kini menjadi Primadona sekolah, semua orang menyukainya, tapi itu tidak bertahan lama, karena tiba-tiba saja penyakit Nina kambuh, Dia tiba-tiba melempari setiap orang yang menyapanya dengan batu kecil, mengejeknya lalu menertawainya, membuat semua orang takut padanya. Begitupun dengan Vina CS, mereka juga mendapat bagian dari tingkah laku Nina. Mereka dikuncikan di Toilet di guyur air dari dalam dan ditertawai habis-habisan oleh Nina. Nina yang dulu tampak manis dan cantik dengan perilaku Baik hati Bak Peri, kini menjadi Brutal, dia juga sempat manjat pohon lalu teriak-teriak tidak jelas. Aku sendiri yang menyaksikan kebrutalan Nina, tidak menyangka, Bahwa dibalik sifat Kelembutan cewek Planet itu ternyata ada sisi Lain yang membuatku bergidik dan juga kasihan padanya. Dan akhirnya pihak keluarga Nina kembali memasukkannya kedalam Rumah sakit Jiwa. Entah kapan Nina akan kembali Normal, hanya Tuhan yang tau.

* * *
Cewek Planet itu..
23-11-2011
Nurul Ilmah

0 comments:

Posting Komentar

Jangan Lupa Komentar yah...and Thank you ^__^

 

Story Of Me Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei